Konsistensi dalam tata kelola keuangan merupakan pilar utama keberlanjutan usaha, terutama bagi pelaku UMKM skala kecil. Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan, Rumah BUMN Sumbawa terus menekankan pentingnya pemisahan aset pribadi dan aset usaha kepada UMKM binaan sebagai langkah mendasar untuk menjaga kesehatan keuangan usaha dalam jangka panjang. Meskipun pemisahan keuangan belum dilakukan secara konsisten oleh seluruh UMKM binaan, sebagian besar telah menerapkannya dengan disiplin. Oleh karena itu, langkah berikutnya yang perlu dilakukan adalah mengelola arus kas usaha secara lebih efektif.

Apa itu Arus Kas dan bagaimana mengelolanya?
Menurut Kasmir (2019), Laporan Arus Kas adalah laporan yang menunjukkan jumlah uang masuk dan keluar perusahaan dalam suatu periode tertentu. Dalam pengelolaannya, pelaku UMKM diarahkan untuk disiplin menyusun laporan arus kas dan laporan laba rugi melalui pencatatan transaksi harian yang konsisten. Kedisiplinan dalam mencatat setiap rupiah ini bertujuan agar pelaku usaha memiliki pemanfaatan data keuangan yang akurat untuk pengambilan keputusan bisnis, seperti menentukan kapan harus menambah stok barang atau melakukan efisiensi biaya operasional.
Berikut langkah-langkah dalam mengelola arus kas (cash flow) keuangan usaha menurut para ahli manajemen keuangan dan akuntansi:
1. Menyusun Perencanaan Kas (Cash Planning)
Menurut James C. Van Horne, perusahaan perlu membuat perencanaan arus kas untuk memperkirakan penerimaan dan pengeluaran kas di masa depan. Langkah yang dilakukan:
- Membuat anggaran kas (cash budget)
- Memperkirakan pemasukan dan pengeluaran
- Menentukan kebutuhan modal kerja
Tujuan:
- Menghindari kekurangan kas
- Menjaga kelancaran operasional usaha
2. Mencatat Seluruh Pemasukan dan Pengeluaran
Menurut Mulyadi, pengendalian kas harus dilakukan melalui pencatatan transaksi yang teratur dan akurat. Yang perlu dilakukan:
- Mencatat penjualan tunai dan kredit
- Mencatat biaya operasional
- Memisahkan uang pribadi dan uang usaha
Manfaat:
- Mengetahui posisi kas sebenarnya
- Mengurangi risiko kebocoran keuangan
3. Mengelola Piutang dan Utang
Menurut Kasmir, pengelolaan piutang dan utang sangat memengaruhi kelancaran arus kas. Langkah:
- Menagih piutang tepat waktu
- Memberi batas kredit kepada pelanggan
- Mengatur jadwal pembayaran utang
Tujuan:
- Kas tetap tersedia
- Menghindari penumpukan utang
4. Mengontrol Pengeluaran Usaha
Menurut Brigham, perusahaan harus mengendalikan pengeluaran agar tidak melebihi pemasukan.
Caranya:
- Memprioritaskan pengeluaran penting
- Mengurangi biaya yang tidak produktif
- Membuat standar biaya operasional
Hasil:
- Usaha lebih efisien
- Keuntungan meningkat
5. Menyediakan Dana Cadangan
Para ahli keuangan menyarankan adanya kas cadangan untuk menghadapi kondisi darurat.
Contoh:
- Penurunan penjualan
- Kerusakan alat
- Keterlambatan pembayaran pelanggan
Idealnya:
- Dana cadangan 3–6 bulan biaya operasional
6. Melakukan Evaluasi dan Analisis Arus Kas
Menurut Sofyan Syafri Harahap, laporan arus kas perlu dianalisis secara berkala untuk menilai kesehatan keuangan usaha. Yang dianalisis:
- Arus kas masuk dan keluar
- Aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan
- Selisih laba dengan kas nyata
Tujuan:
- Mengetahui kondisi keuangan usaha
- Menentukan strategi bisnis berikutnya
7. Menggunakan Teknologi atau Sistem Keuangan
Ahli manajemen modern menyarankan penggunaan software akuntansi untuk mempermudah pengelolaan arus kas.
Contoh software:
- Accurate
- Jurnal
- QuickBooks
Manfaat:
- Laporan otomatis
- Monitoring kas real-time
- Mengurangi kesalahan pencatatan

Dalam pengelolaannya, pelaku UMKM diarahkan untuk disiplin menyusun laporan arus kas melalui pencatatan transaksi pemasukan dan pengeluaran secara konsisten setiap hari. Pengelolaan arus kas dilakukan dengan memantau aliran uang masuk dan keluar agar kondisi keuangan usaha tetap stabil. Selain itu, pelaku usaha juga perlu memisahkan uang pribadi dan uang usaha, mengatur pengeluaran operasional sesuai kebutuhan, serta menyediakan dana cadangan untuk mengantisipasi kebutuhan mendadak. Dengan pengelolaan arus kas yang baik, UMKM dapat mengetahui kondisi keuangan usaha secara lebih jelas dan mengambil keputusan bisnis secara tepat.
Bagi pelaku UMKM mikro, kecil ataupun menengah dengan adanya QRIS sangat membantu UMKM dalam melakukan transaksi dengan pelanggan lebih mudah, selain itu QRIS bisa dilakukan semua pembayaran, cukup adanya satu code QRIS di atas meja pelanggan bisa bayar pakai apa saja dan sekarang tidak perlu lagi mencari uang receh untuk kembalian atau memberikan kembalian menggunakan permen.
Digitalisasi Transaksi Melalui QRIS
Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) adalah standarisasi pembayaran menggunakan metode QR Code agar proses transaksi dengan aplikasi pembayaran apa pun menjadi lebih mudah, cepat, dan terjaga keamanannya.
Sejalan dengan manajemen internal yang rapi, sisi transaksi luar juga diperkuat melalui teknologi pembayaran. Penerapan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) diperkenalkan sebagai solusi digital untuk mempercepat dan mengamankan transaksi.
Dengan QRIS, transaksi pelanggan menjadi lebih praktis dan higienis. Bagi pemilik usaha, keunggulannya terletak pada pencatatan otomatis. Setiap pembayaran langsung terekam dalam sistem digital, yang secara signifikan meminimalisir risiko kesalahan hitung manual serta memudahkan proses rekapitulasi harian.
Daftar Referensi:
1. Kasmir. (2019). Analisis Laporan Keuangan. Edisi 1. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
2. James C. Van Horne & John M. Wachowicz Jr. (2013). Fundamentals of Financial Management. Jakarta: Salemba Empat.
3. Mulyadi. (2016). Sistem Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.
4. Eugene F. Brigham & Joel F. Houston. (2018). Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Jakarta: Salemba Empat. 5. Sofyan Syafri Harahap. (2015). Analisis Kritis atas Laporan Keuangan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.





